Senin, 18 September 2017

Perasaan yang Tak Terkirim💌

    Hi guys! di blog kali ini aku akan mencoba untuk membuat cerpen. Sebenarnya membuat cerpen tidak terlalu sulit. Tapi karena tema yang diminta adalah tentang "Cinta", haha. Oleh karena itu, aku akan mencoba sebisa mungkin dengan menuangkan pengalaman ku sendiri. Check it out and I hope you like it!

    Yunani, tempatnya para Dewa - Dewi yang penuh dengan masa lalu menakjubkan berkumpul. Tak terkecuali Aphrodite, sang Dewi cinta yang bertugas mengatur tentang cinta seseorang. Meskipun sudah ada Dewi Cinta di sisi, tidak membuat perjalanan cintanya berjalan lancar. Ntah karena Aphrodite tidak melihat atau dari ketidakberuntungannya? Who knows.
    Altara, seorang siswi SMA kelas 2 yang sedang sibuk mengobati temannya dijuluki sebagai Perawat Kelas. Cocok dengan keinginannya, gadis yang biasa dipanggil Ira ini adalah anak yang lembut dan pemalu. Ia jarang marah dan kecil kemungkinan mendengarnya teriak karena ia sendiri jarang berbicara. Hal lainnya adalah Mira cukup ceroboh, ia mudah lupa akan sesuatu hal dan juga mudah terjatuh. Saat kalian sudah mengenalnya, Ira akan lebih terbuka dan akan terlihat sifatnya yang childish karena sifatnya yang mudah bosan dan mudah tenggelam dalam dunianya sendiri dan lola karena ia tidak terlalu mengerti kata - kata sulit dan hal sulit yang berhubungan dengan sejarah dan semacamnya.
    Teman-teman dekat yang menemaninya dari kecil berpisah kelas dan karena kesibukan tugas dan hal lainnya membuat mereka jarang berkumpul dan bermain bersama seperti dulu. 1 hal yang ia ingat bahwa walaupun tidak bersama, tidak apa karena hatinya tetap saling mengingat dan peduli. Saat ulang tahunnya yang ke-16, suatu hal yang tidak terpikirkan terjadi. seorang teman yang "pernah" dekat dengannya mengucapkan selamat secara tiba - tiba dan mulai mengobrol dan bercanda. Ira yang sudah lama lost contact dengannya tentu kaget dan dilanda dengan perasaan senang dan tidak percaya. Anak itu bernama Altaro dan 1 hal,
"Mereka pernah saling mencintai".
Saat sudah lumayan lama keseharian mereka dipenuhi dengan canda tawa bercampur dengan sedikit perasaan sayang. Aro pun memberanikan diri menyampaikan perasaannya, dan siapa sangka! Ira menerimanya. Keseharian mereka pun bertambah semakin dekat dan mengasyikan dengan saling mengisi kekosongan satu sama lain, menghibur serta mengkhawatirkan satu sama lain dan ntah kenapa, terjadi begitu saja. Adakala mereka berdebat kecil, tapi hal itu malah membuat hubungan mereka semakin dekat.
    Tapi hal itu tidak berlansung lama. Ira dan Aro mulai mengalami banyak hal yang membuat their relationship goyah dan hampir tenggelam. Ntah apa jelasnya siapa yang salah atau apa yang terjadi sampai membuat mereka sejauh ini sekarang seakan-akan mereka saling membuat tembok yang membuat jalan mereka semakin jauh. Sebenarnya masalah yang mereka alami cukup simple. Tapi karena keegoan mereka berdua, tidak ada yang mau mengalah dengan berfikir bahwa aku saja yang tersakiti disini dan kamu tidak, bahwa aku saja yang sudah berusaha berubah menjadi yang terbaik untukmu dan kamu tidak membuat mereka gengsi untuk berkata "maaf". Berawal hanya dari Aro yang tidak menyukai Ira dari segi Ira tidak bisa menyampaikan kekesalan sakit hatinya sendiri dan tidak suka orang lain ikut campur urusan mereka dan Mira yang tidak menyukai bahwa Aro terlalu dekat dengan perempuan lain.
Yah, perempuan mana yang tidak marah jika cowoknya lebih dekat dengan "teman perempuannya" dibanding mereka sendiri?
Percayalah, semakin lama masalah itu didiamkan masalah sekecil apapun lama-lama menjadi panjang. Ira pun berfikir demikian, lalu terkadang terlintas di benaknya mengingati dirinya sendiri :"Oh! mungkin ini yang dimaksud mama jangan pacaran dulu, ntar kamunya keganggu". Tapi semua sudah terlambat, Ira sudah terlanjur menyayangi Aro hingga membuatnya menangis diselimuti malam dan ditemani oleh bintang.
     Mira awalnya berfikir: "Toh, buat apa aku duluan. Aku ngomong juga dianya udah acuh tak acuh. Tidak ada sadarnya kalo aku udah usaha berubah kasih yang terbaik buat dia jadi yang harusnya minta maaf tuh dia! bukan aku. Kan kalau dia ga ngomong duluan kan seakan-akan cuman aku yang mau berjuang buat hubungan ini dan dia oh, yaudah. Tapi setelah sudah menjadi jauh Ira tersadar akan suatu hal bahwa pertama,
"saat kita sedang lelah dengan seseorang, bukan berarti kita sudah berhenti menyayanginya, terkadang yang kita butuhkan hanya jarak sesaat."
dan hal itu akan membuat kalian berfikir lebih jernih dan sudah tidak tenggelam dalam emosi.
dan kedua karena pada dasarnya,
"Menyayangi adalah tentang ketulusan dan bukan tentang 1 orang, tapi tentang kedua orang yang saling mengutamakan kepentingan pasangannya dan tidak memperlakukan mereka sama seperti yang kau ingin diperlakukan serta saling menuntun kearah yang benar."
    Setelah berfikir demikian, Ira baru ngeh bahwa bukan hanya dia yang tersakiti tapi juga Aro karena sifat tindakan Ira kepada Aro. Bahwa sebenarnya Aro menanggapi hal ini dengan lebih sulit karena ia adalah seorang laki-laki yang cuek dan sulit untuk mengeluarkan apa yang ada di benaknya dan Ira tidak mengerti apa-apa selain lansung menyalahkannya.
Serta bahwa jika keduanya tidak nyaman dengan sifat mereka masing-masing, mungkin mereka terlalu kecil untuk merasakan yang namanya "pacaran" karena jika mereka memang sudah siap, hal ini tak akan terjadi.
Oleh karena itu, Ira pun berencana untuk memulai percakapan serius dengannya dan memulai dengan kata "maaf" lalu dilanjutkan dengan kamu pun tidak merasa ku kekang dan akupun sebaliknya dan hal-hal lainnya. Tapi itu semua hanya sebuah gagasan, Mira pun takut untuk melangkah,
tapi yah kalau tidak dilakukan, mau sampai kapan?















1 komentar: